- Menghadapi Pertahanan Diri
Belajar melakukan wawancara yang efektif merupakan bagian inti dalam melakukan nyaris semua bentuk asesmen atau intervensi. Walau bagaimanapun, ketidakpastian dalam proses wawancara dapat menyulitkan bahkan menciutkan nyali. Setiap klien menghadapkan terapis pada karakter dan situasi yang berbeda, sehingga membatasi kemampuan terapis dalam mengontrol jalannya wawancara. Masalah paling umum yaitu pertahanan diri klien, yang menghambat kelangsungan dan transparansi wawancara. Karena itu, pemahaman yang memadai tentang sikap defensif merupakan bagian inti dalam kompetensi pewawancara. Jika pewawancara tidak memahami mengenai pertahanan diri dan cara menanganinya secara efektif, wawancara klinis kemungkinan besar akan menyebabkan rasa frustasi atau bahkan tak efektif bagi klien maupun pewawancara.
Aktivitas klinis paling produktif ketika klien dan praktisi bekerjasama. Reaksi-reaksi defensif dapat disalah artikan sebagai penolakan atau kegagalan usaha bekerjasama bagi klinisi (Teyber, 1997). Terapis mungkin bertanya-tanya, “jika benar-benar menginginkan bantuan, mengapa sangat menyulitkan, menentang, dan menolak? Persepsi seperti itu bisa menimbulkan perasaan terusik, membuat terapis menjadi lebih keras dan menuntut dalam memicu respon yang lebih jujur dari klien. Pendekatan ini nyaris selalu menimbulkan efek sebaliknya, dan situasi menjadi sangat-sangat tidak produktif (Lankton & Lankton, 1983; Vaillant, 1992).
- Memahami Pertahanan Diri Klien
Terapis yang mampu memahami pertahanan diri klien lebih siap dalam memberikan respon. Setidaknya, terapis dapat membatasi potensi gangguan yang muncul karena reaksi defensif. Kemungkinan terbaiknya adalah, mereka bisa menangani sikap defensif secara efektif dan mendorong kemajuan terapi.
- Mengidentifikasi dan Mengelompokkan Perilaku Defensif
Teori-teori kepribadian pada umumnya mengelompokkan sikap defensif menjadi tipe-tipe yang berbeda (contoh: represi, penolakan, proyeksi, formasi reaksi). Diasumsikan bahwa keakraban dengan sistem pengelompokkan ini mempermudah terapis dalam mengenali dan merespon pertahanan diri klien secara efektif.
Walau bagaimanapun, mengidentifikasi suatu perilaku sebagai sikap defensif dan mengelompokkannya berdasarkan sebuah tipologi adalah contoh kecil fungsi pragmatisnya. Memberitahu klien bahwa mereka “sedang bersikap defensif“ kemungkinan besar akan menambah masalah dengan cara memperbesar pertahanan diri (Teyber, 1997). Contohnya, kalimat seperti “Anda sedang menyangkal“ atau “Anda sedang memproyeksikan“ bisa jadi tidak produktif ketika klien mempersepsikannya sebagai kritik atau penghinaan.
- Makna Pertahanan Diri
Ketika terapis mengelompokkan dan memberi label, mereka memposisikan diri sebagai pengamat. Pendekatan paling konstruktif pada pertahanan diri adalah dengan cara memahaminya dari perspektif dan pengalaman klien. Cara mengawali yang terbaik yaitu dengan mempertimbangkan makna sikap defensif bukan sebagai istilah teknis psikologis, namun dalam pengertian umum. Sikap defensif merupakan upaya melindungi diri (Benjamin, 1995). Oleh karenanya, klien yang terlihat defensif bisa dianggap bereaksi berdasarkan asumsi bahwa mereka sedang diancam atau diserang (Teyber, 1997).
Menerima perilaku defensif klien sebagai indikasi bahwa mereka merasa rawan dan terancam bisa menyulitkan, terutama untuk terapis mahasiswa. Klinisi yang benar-benar ingin membantu klien lebih mungkin mengalami rasa bingung dan kehilangan kesabaran terhadap usaha-usaha klien untuk melindungi diri. Walau bagaimanapun, mengadopsi pendapat klien meningkatkan kemungkinan mereka merespon dengan cara-cara yang produktif. Memulai menerima bahwa klien merasa terancam, dan berusaha mengapresiasinya bisa menjadi solusinya.
Konfrontasi secara langsung kemungkinan tidak efektif karena pertahanan-pertahanan digerakkan oleh respon terhadap ancaman yang dipersepsikan (Lankton & Lankton, 1983; Vaillant, 1992). Klien bisa mempersepsikan konfrontasi sebagai kritik atas penggunaan pertahanan diri dan sebagai usaha menghilangkannya (Teyber, 1997). Menantang pertahanan klien secara eksplisit, oleh karenanya, kemungkinan besar meningkatkan usaha perlindungan diri klien.
Bahkan, penggunaan kata pertahanan diri dalam istilah psikologis seringkali mengacu pada bentuk-bentuk pertahanan diri yang dipicu dan dilakukan secara otomatis, tanpa disadari. Jika ini masalahnya, klien sendiri mungkin menganggap usaha-usaha pertahanan diri sebagai hal yang tidak bisa diterima dan tidak diperlukan. Kemungkinan lainnya adalah klien mungkin berhadapan dengan situasi yang mereka persepsikan terlalu mengancam dan mengganggu untuk disadari. Dalam keadaan seperti itu, membicarakan mengenai pertahanan diri klien secara langsung kemungkinan besar akan membingungkan dan menimbulkan kegelisahan (Teyber, 1997).
- Nilai Perlindungan Diri
Pewawancara tetap merasa bingung akan kebutuhan melindungi diri klien. Mengapa klien merasa terancam ketika bantuan ditawarkan? Tak bisa dipungkiri, ada situasi-situasi klinis, seperti perintah pengadilan atau evaluasi tidak secara sukarela dan intervensi-intervensi, dimana klien tidak sepenuhnya memilih untuk berpartisipasi. Dalam kasus-kasus seperti itu, jelas bahwa klien akan merasa terancam dan bersikap defensif. Walau bagaimanapun, lebih sulit memahami situasi yang jauh lebih umum dimana klien secara aktif menginginkan terapi, namun masih merasakan kebutuhan untuk melindungi diri.
Namun, coba bayangkan jika ada seorang klien dengan perilaku yang sangat bertolak belakang - seseorang yang jelas-jelas tidak memiliki pertahanan diri. Bayangkan seseorang yang dengan serta-merta, sejak sesi pertama, mengungkapkan kesulitan dan kelemahan terbesar secara sukarela dengan rinci, tanpa menunjukkan kesadaran bahwa ia sedang ada dalam posisi yang berbahaya. Individu ini, alih-alih berhatian-hati atau mempertahanankan diri, merespon semua pertanyaan tanpa menutupi, dan tanpa ragu menerima semua saran atau rekomendasi yang ditawarkan pewawancara.
Perilaku seperti ini kemungkinan akan menimbulkan kekhawatiran. Bagaimanapun juga, mengapa klien yang bahkan belum memiliki kesempatan untuk berkenalan dengan terapis - dan sebagai akibatnya tidak memiliki dasar untuk menentukan apakah terapis mereka pengertian, responsif, bisa dipercaya, atau bisa membantu - tanpa membeda-bedakan bersikap terbuka pada mereka? Jika klien bersikap dengan cara yang mirip di luar sesi terapi, ada alasan kuat untuk memperkirakan resiko mereka dimanipulasi dan dimanfaatkan oleh orang lain.
Contoh ekstrim ini menyoroti poin penting: tingkat tertentu pertahanan dan perlindungan diri diharapkan dan diinginkan (Benjamin, 1995; Bowins, 2006; Cramer & Jones, 2007; Vaillant, 1992). Kehidupan seringkali rumit, menuntut, dan membuat stres. Mengelola hubungan interpersonal, khususnya dengan orang-orang yang tidak akrab, seringkali menantang dan rumit. Oleh karena itu, kehati-hatian dan perlindungan diri pada tingkat tertentu bisa jadi berguna bahkan dibutuhkan dalam mengatasi tekanan hidup sehari-hari dan interaksi-interaksi interpersonal (Bowins, 2004; Bowins, 2006). Dalam banyak peristiwa, tepatnya karena mengatur kehidupan sehari-hari sangatlah kompleks dan berat, kecepatan dan spontanitas usaha-usaha perlindungan ini sangatlah berguna, tanpa perlu melalui proses-proses sadar (American Psychiatric Association, 2000). Dilihat dari perspektif ini, pertahanan diri klien menjadi jauh lebih mudah dimengerti.
Comments
Post a Comment