Menghadapi Pertahanan Diri Belajar melakukan wawancara yang efektif merupakan bagian inti dalam melakukan nyaris semua bentuk asesmen atau intervensi. Walau bagaimanapun, ketidakpastian dalam proses wawancara dapat menyulitkan bahkan menciutkan nyali. Setiap klien menghadapkan terapis pada karakter dan situasi yang berbeda, sehingga membatasi kemampuan terapis dalam mengontrol jalannya wawancara. Masalah paling umum yaitu pertahanan diri klien, yang menghambat kelangsungan dan transparansi wawancara. Karena itu, pemahaman yang memadai tentang sikap defensif merupakan bagian inti dalam kompetensi pewawancara. Jika pewawancara tidak memahami mengenai pertahanan diri dan cara menanganinya secara efektif, wawancara klinis kemungkinan besar akan menyebabkan rasa frustasi atau bahkan tak efektif bagi klien maupun pewawancara. Aktivitas klinis paling produktif ketika klien dan praktisi bekerjasama. Reaksi-reaksi defensif dapat disalah artikan sebagai penolakan atau kegagalan usaha bek...
Vol. Ilmu Ushuluddin, Januari 2015, hlm. 59-66 14, No. 1 ISSN 1412-5188 Ahmad Dosen mata kuliah Akhlak Tasawuf Fakultas Ushuluddin dan Humaniora IAIN Antasari Banjarmasin Diterima tanggal 5 November 2014 / Disetujui tanggal 4 Desember 2014 Abstract As all religions have their mysticism, Islamic mysticism is well known as Sufism. In its development, many schools of Sufism appeared and they had been influenced by several religions and beliefs around such as Christian, Buddhism, Hinduism, Gnotisism, etc. This article tends to tell about Islamic Mysticism and its epistemology. It will be discussed about the definition of Sufism, its schools, its objects, and ways to get it. The writing classified kinds of Islamic Mysticism too into three types, Tasawuf Akhlaki, Tasawuf Amali, and Tasawuf Falsafi. Each type has the certain character. In the end, it will be explained how to know the validity of Sufism. Kata kunci: Filosof, Sufi, Neo-Platonisme, Gnostisisme, Budhisme Pendahuluan Sejarah umat ...