Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2020

EPISTEMOLOGI ILMU-ILMU TASAWUF

Vol. Ilmu Ushuluddin, Januari 2015, hlm. 59-66 14, No. 1 ISSN 1412-5188 Ahmad Dosen mata kuliah Akhlak Tasawuf Fakultas Ushuluddin dan Humaniora IAIN Antasari Banjarmasin Diterima tanggal 5 November 2014 / Disetujui tanggal 4 Desember 2014 Abstract As all religions have their mysticism, Islamic mysticism is well known as Sufism. In its development, many schools of Sufism appeared and they had been influenced by several religions and beliefs around such as Christian, Buddhism, Hinduism, Gnotisism, etc. This article tends to tell about Islamic Mysticism and its epistemology. It will be discussed about the definition of Sufism, its schools, its objects, and ways to get it. The writing classified kinds of Islamic Mysticism too into three types, Tasawuf Akhlaki, Tasawuf Amali, and Tasawuf Falsafi. Each type has the certain character. In the end, it will be explained how to know the validity of Sufism. Kata kunci: Filosof, Sufi, Neo-Platonisme, Gnostisisme, Budhisme Pendahuluan Sejarah umat ...

RAGAM PENGEMBANGAN PEMIKIRAN TASAWUF DI INDONESIA

Mujamil Qomar Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung mujamil65@yahoo.com Epistemé, Vol. 9, No. 2, Desember 2014 AbstrakAda kontroversi pemikiran di kalangan pengamat tentang tasawuf. Sebagian mereka mengkritik secara tajam terhadap tasawuf sebagai salah satu faktor penyebab kemunduran dunia Islam lantaran menyebabkan sikap pasrah, acuh tak acuh dan pasif terhadap kehidupan duniawi. Namun pada bagian lain, justru muncul penilaian sebaliknya. Tasawuf memiliki peran dan kontribusi yang sangat besar pada kebangunan umat Islam dan kemajuannya. Maka masalahnya terletak pada potensi tasawuf dalam kehidupan umat Islam. Masalah ini selanjutnya difokuskan pada kreativitas pemikir-pemikir Islam Indonesia dalam mengembangkan tasawuf. Lalu diajukan rumusan masalah (pertanyaan penelitian): bagaimanakah kreativitas pemikir-pemikir Islam Indonesia dalam mengembangkan ilmu tasawuf mulai 1980 hingga sekarang (2014)? Untuk menjawab pertanyaan penelitian ini, peneliti mengumpulkan data melalui met...

Konsep Makrifat menurut Al-Ghazali dan Ibnu ‘Arabi: Solusi Antisipatif Radikalisme Keagamaan Berbasis Epistemologi

Ajaran Makrifat Ajaran makrifat secara teoritis tekstualis berawal dari penafsiran ayat QS al-Dzariyat: 56 yang artinya “dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” Kalimat “supaya mereka mengabdi kepada-Ku” menurut Ibnu Abbas berarti “agar mereka mengenal-Ku (Allah), yaitu makrifat. Sementara pada QS. al-An’am: 91 yang artinya “dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya” (Al-Kusairi, 2007: 168). Ada sebagian tafsir yang menuliskan bahwa ayat itu berarti “mereka tidak mengenal (makrifat) Allah sebagaiman seharusnya Ia dikenal” (Al-Thusi, 2001: 38). Sumber lain ajaran makrifat adalah dua buah hadits Qudsi dari Abi Hurairah yang diriwayatkan al-Bukhari yang artinya: “..... dan hamba-Ku senantiasa berusaha mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi (alat) pendengarannya yang ia mendengar, dengan alat itu menjadi (alat) penglihatannya y...